Terbaru

Kamis, 28 Maret 2019

Sebuah Kilas Balik, Proses Panjang Perjuangan GARDA TAWAJAH


Garda Tawajah
Ribuan masa, Bersatu dibawah panji GARDA TAWAJAH
Proses panjang Jamaah Asysyahadatain melalui Gerakan Dukungan Tanah Waqaf Masjid Asysyahadatain (GARDA TAWAJAH) dalam memperjuangkan tanah waqaf masjid yang diklaim oleh seseorang berinisial MS berbuah manis. Senin malam, 25/03 BPN memenuhi tuntutan dengan menyerahkan dokumen/surat dari pihak terkait kepada Nadzir yaitu Habib Ahmad Bin Ismail Bin Yahya.

KILAS BALIK GARDA TAWAJAH

Kilas balik perjalanan perjuangan GARDA TAWAJAH, kasus ini berawal dari pelaporan pemilik lahan kepada pihak kepolisian atas dugaan penggunaan tanpa izin terhadap lahan yang dimiliki oleh MS, DS dan ES oleh warga setempat. Dampak dari pelaporan ini, pihak BPN Kabupaten Cirebon didampingi aparat kepolisian melakukan pengukuran lahan pada 12/01.


Garda Tawajah
Pelaporan warga menjadi awal pengukuran lahan

Habib Ali Ausath Bin Yahya, tidak mempersoalkan pelaporan tersebut, namun masalah menjadi timbul ketika proses pengukuran berlangsung, khususnya terhadap sertifikat atas nama MS memasuki area halaman masjid. Berbeda dengan dua sertifikat lainnya yang tidak masuk ke area masjid, Habib Ali Ausath kemudian sempat adu mulut dengan petugas BPN berkeberatan pengukuran lahan masuk ke area masjid.


Dalam proses tersebut, diketahui pemilik yang mengkalim lahan memiliki sertifikat keluaran Depdagri tahun 1994, sementara Habib Ali Ausath Bin Yahya memiliki sertifikat waqaf tahun 2008, adanya sertifikat ganda membuat Habib Ali berkirim surat keberatan serta beberapa kali berkomunikasi dengan BPN Kabupaten Cirebon melalui tim yang ia bentuk. Hasilnya, BPN Kabupaten Cirebon justru menjadikan sertifikat tanah tersebut menjadi sengketa.


Sikap BPN Kabupaten Cirebon yang memandang sebelah mata serta terkesan memihak kepada orang yang mengklaim tanah waqaf begitu terlihat, hal inilah yang membuat Habib Ali geram dan mengkoordinir dukungan dari berbagai pihak yang ditandai dengan pembentukan tim dengan nama GARDA TAWAJAH. Dalam tim tersebut terdapat beberapa unsur, diantaranya tim penasehat hukum, tim negosiator dengan pihak BPN hingga koordinator massa jika opsi unjuk rasa tak bisa dihindari.

DUA KALI MEDIASI

Berbagai pihak yang peduli, berinisiatif memfasilitasi mediasi, sayangnya mediasi pertama oleh Habib Ali Ausath Bin Yahya dianggap bodong lantaran hanya mengedepankan sisi kondusifitas saja dan mengabaikan tuntutan. Sempat beredar kabar bahwa orang yang mengklain tidak akan menggangu tanah waqaf masjid bahkan siap memberikan apapun untuk kebutuhan masjid, hal ini dianggap sebagai penghinaan lantaran menghapus fakta sejarah dan mengabaikan peran keluarga besar pemberi waqaf. Seolah - olah tanah waqaf diberika oleh pihak yang mengklaim dan keluarga pemberi dan penerima waqaf terkesan seperti dikasihani. Lebih dari itu, tidak ada komitmen tertulis dalam pihak terkait dalam mediasi untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Garda Tawajah
Mediasi GARDA TAWAJAH
Mediasi kedua juga dianggap bodong lantaran dilakukan tanpa pemberitahuan kepada Garda Tawajah dan hasilnya masih sama dengan pertemuan pertama. Bahkan melalui salah satu media berita Cirebon, Kepala Desa Citemu menganggap masalah sudah selesai, hal ini menambah geram Garda Tawajah


Melalui GARDA TAWAJAH, beberapa usaha dilakukan dari mulai berkirim surat dan mendatangi kantor Kementrian Agraria sampai berkonsultasi kepada aparat kepolisian, selain itu koordinator aksi menyiapkan berbagai langkah persiapan untuk menggelar aksi damai ke kantor BPN pada Senin (18/03). Berbagai upaya komunikasi terus berjalan, bahkan sampai proses pengiriman surat pemberitahuan kepada aparat kepolisian perihal akan adanya aksi damai, banyak pihak mengkhawatirkan kondusifitas dan adanya potensi ditunggani oleh kepentingan politik maupun ormas lainnya. Hal ini lantaran waktu aksi damai masih dalam momentum kampanye pilpres.


Garda Tawajah
Dukungan Pondok Pesantren Nurul Huda, Munjul

Satu hari menjelang aksi berbagai persiapan dari masa yang akan turut serta dari berbagai daerah telah menggeliat, hingga Minggu (17/03) malam, beberapa koordinator dan peserta aksi berkumpul di Citemu untuk menyiapkan konsep, dan mematangkan rencana aksi damai. Pembentukan struktur panitia dan panduan aksi disebar melalui pesan singkat dan sosial media.

AKSI DAMAI GARDA TAWAJAH

Senin (18/03) pagi pukul 07.40, dipimpin Habib Umar Isrofil Bin Yahya dari atas mobil komando, ribuan masa dari arah Cirebon Timur bergerak menuju Kantor BPN Kabupaten Cirebon, Sumber. Sementara dari arah barat, masa diarahkan langsung menuju BPN dengan terlebih dahulu memarkirkan kendaraannya di halaman Stadion Ranggajati Sumber. 


Garda Tawajah
Aksi Damai GARDA TAWAJAH, Senin 18 Maret 2019
Setibanya di area sekitar BPN, masa bergerak berjalan secara tertib menuju Kantor BPN mengikuti mobil komando, setelah tiba, secara bergiliran Habaib, Aktivis, Ustadz dan Koordinator menyampaikan orasinya. Tepat pukul 10.00 perwakilan Garda Tawajah masuk negosiasi kedalam kantor BPN hingga pukul 12.00, memasuki waktu dzhuhur aksi damai dihentikan sementara waktu lantaran sholat dzuhur.

Usai sholat dzhuhur, masa kembali ke arena aksi damai, Ketua Garda Tawajah Habib Ali Ausath Bin Yahya menyampaikan bahwa BPN berkomitmen memenuhi semua tuntutan dan meminta waktu selama tiga hari (Jum'at, 21/03) untuk menyelesaikan semua kebutuhan administrasi, dan menyampaikan apabila BPN ingkar terhadap komitmen tersebut, Garda Tawajah siap menggelar aksi kembali dengan jumlah masa 10 kali lipat lebih banyak dari yang datang hari itu.

Jum'at 21/03 hingga malam, belum ada informasi apapun dari BPN Kabupaten Cirebon, Habib Ali Ausath Bin Yahya menyiagakan seluruh koordinator untuk bersiap menggelar kembali aksi jilid II lantaran hingga waktu yang dijanjikan BPN belum memenuhi komitmennya. Sabtu 22/03 datang sepucuk surat dari BPN Kabupaten Cirebon yang berisi meminta waktu kembali, Habib Ali kemudian merespon dengan memberikan waktu hingga hari Senin (25/03) jika sampai hari Senin tersebut BPN belum juga memenuhi komitmennya, maka Garda Tawajah akan menggelar rapat internal dan mengumumkan pada khalayak ramai soal waktu aksi jilid II pada perayaan Isra Mi'raj di Panguragan, Selasa (26/03).

BPN KABULKAN TUNTUTAN SECARA TUNTAS DAN TANPA SYARAT

Senin 25/02 sore hari, beredar pesan berantai dari Habib Muhammad Iqbal Bin Yahya bahwasanya sore ini langsung dari ahli waris pihak yang mengklaim bersedia menerima tuntutan Garda Tawajah disaksikan oleh BWI (Badan WAQAF Indonesia) yang merupakan Instansi dari Departemen Agama unsur MUSPIKA serta Aparat Kepolisian dan Tentara dan kami minta segera diurus secara tertulis sesuai dengan prosedur yang berlaku. "

"Sujud syukur kepada Mu ya Allah atas terkabulnya nya doa kami sehingga perjuangan ini mendapat ridho mu kepada seluruh Jama'ah Asy-Syahadatain yang telah ikut ber unjuk rasa yang telah membantu secara finansial, do'a, harta, pikiran dan tenaga kami atas nama keluarga besar Syekhuna mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, Amin Ya Rabbal Alamin." demikian tulis Habib Iqbal.

Pesan berantai tersebut mengundang rasa syukur berbagai pihak, terutama para Jamaah, meski demikian Habib Ali Ausath tetap menganggap ini belum selesai jika belum ada surat tertulis, hal ini masih dianggap angin surga. 

Akhirnya, pada Senin (25/03) malam Habib Ali Ausath selaku Ketua GARDA TAWAJAH mengumumkan secara langsung perihal dipenuhinya tuntutan secara tuntas dan tanpa syarat melalui pesan berantai lengkap dengan foto penerimaan surat.

Garda Tawajah
BPN penuhi tuntutan pada Senin (25/03) malam.
Alhamdulillah surat yang kita harapkan telah sampai ke tangan ketua badan Nadzir Habib Ahmad Bin Ismail yahya di Panguragan dan secara resmi kami sampaikan bahwa Garda Tawajah dikabulkan tuntutannya Tanpa Syarat oleh BPN yang berkomunikasi dengan pihak lawan. Maka rencana unjuk rasa ke 2 dibatalkan dan diganti dengan syukuran sekaligus acara ISRA MI'RAJ tanggal 7 April di CITEMU

Terima kasih kepada semua pihak yg telah berjuang bersama sama kami dalam GARDA TAWAJAH Citemu terutama para Habaib dan para kiyai Wabil khusus Habib ABDULLOH bin Umar bin Yahya

Ali Ausat bin Ismail

Demikian pesan tersebut, menandai berakhirnya polemik penyerobotan Tanah Waqaf Masjid Asysyhadatain Citemu.

*Dirangkum dari berbagai sumber