Terbaru

Selasa, 19 Mei 2020

Cara Penetasan Telur Puyuh Dengan Menggunakan Mesin Tetas

Sebelumnya kami membuat artikel tentang "hal yang wajib anda ketahui jika ingin beternak puyuh" dan jika anda sudah baca lalu penasaran tentang penetasan telur puyuh, maka dari artikel ini akan dijelaskan yang dilansir dari blog peternakan puyuh di Cirebon "Puyuh Angkawijaya 88".


Menurut kegunaannya telur puyuh dapat dibedakan menjadi dua yaitu telur tetas dan telur konsumsi, telur tetas adalah telur yang dihasilkan dari hasil perkawinan antara puyuh betina dan jantan, untuk mendapatkan telur tetas yang mempunyai fertilitas tinggi maka perbandingan antara puyuh jantan dan betina adalah 1 ekor pejantan dengan 3 ekor betina.

Puyuh yang baru menetas dari mesin tetas sumber : burungpuyuhangkawijaya.blogspot.com

Di samping itu umur induk betina sekitar 4-10 bulan, sedangkan umur dari induk puyuh pejantan lebih muda dari betina 15-30 hari dan untuk telur konsumsi adalah telur yang dihasilkan dari suatu pemeliharaan puyuh betina tanpa perkawinan.

Bila kita akan menetaskan telur puyuh, maka terlebih dahulu kita seleksi telur-telur tersebut agar nantinya mendapatkan hasil yang baik, untuk itu kita harus mengetahui terlebih dahulu syarat-syarat telur puyuh tetas sebagai berikut :

1. Dihasilkan dari induk dan pejantan yang cukup umur.

2. Telur puyuh bentuknya oval dan tidak runcing.

3. Kulit rata tidak benjol atau bertekuk-tekuk, kulitnya halus dan warna nya mengkilap, tidak polos putih biru muda atau cokelat.

4. Bila di teropong maka ruang udara ada di ujung yang tumpul.

5. Ukuran telur puyuh tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil berat telur sekitar 10 gram.

6. Merupakan telur baru paling lama di simpan 7 hari.

Setelah telur-telur di pilih, kalau perlu dibersihkan dengan air hangat dan sebelum di tetaskan maka harus di simpan dalam suhu kamar dan tidak boleh di sekap, dalam memilih bentuk telur kita bisa melihatnya dengan kasat mata, sedangkan kulit telur bisa di raba dan di lihat apakah kulit nya benjol, retak, kotor dan lainnya.

Penggunaan Mesin Tetas

Salah satu teknologi yang digunakan untuk menetaskan telur puyuh adalah mesin penetasan, Mesin tetas merupakan sumber daya yang vital dalam keberlangsungan usaha peternakan puyuh secara komersial, pemilihan telur tetas merupakan telur fertil yang akan di tetaskan baik menggunakan penetasan alami maupun menggunakan mesin tetas.

Telur tetas ini sudah di buahi oleh pejantan dan telur tetas ini harus berasal dari induk puyuh yang bermutu baik, beberapa hal harus diperhatikan dalam memilih telur tetas menurut Abidin (2004) yaitu : Berat telur harus berada pada kisaran normal, yaitu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, berat telur puyuh berkisar 10-11 gram perbutir.

Umur telur tetas tidak boleh lebih dari 7 hari dan telur sebaiknya di simpan pada suhu 15-17 C, kulit atau cangkang telur bebas dari kotoran, baik berupa feses maupun sisa-sisa pakan yang masih menempel. Indeks telur normal, yaitu berkisar antara 70%-80%. Tatalaksana penetasan pemilihan telur tetas yang tepat maka akan menghasilkan daya tetas yang baik.

Setelah memilih telur tetas dengan tepat, maka langkah selanjutnya yaitu melakukan tatalaksana penetasan sesuai dengan kondisi aslinya. Kondisi mesin tetas disesuaikan dengan kondisi induk.

Langkah pertama yang dilakukan sebelum memasukkan telur tetas adalah membersihkan mesin tetas menggunakan desifektan, hal ini dilakukan untuk menghilangkan hama bakteri maupun mikroba yang dapat mengganggu daya tetas dari telur yang yang di tetaskan.

Suhu di dalam mesin tetas di atur pada suhu 38°C. Kemudian telur tetas di letakkan pada rak mesin tetas dengan bagian tumpul di atas, mesin tetas di bagi menjadi dua bagian yaitu inkubator dan hactery.

Anak puyuh menetas setelah 17-18 hari jika pada puyuh selama 21 hari dengan pengaturan 18 hari di inkubator dan 3 hari di hactery, telur di putar dua kali sehari pemutaran telur di tujukan untuk mendinginkan telur seperti pada induk yang sesekali meninggalkan telurnya.

Pemeriksaan telur (candling) dilakukan minimal 2 kali untuk mengetahui telur yang fertil dan infertil, suhu udara di dalam penetasan embrio akan berkembang bila suhu udara di sekitar telur minimal 70°F (21,11° C) namun perkembangan ini sangat lambat di bawah suhu udara ini praktis embrio tidak mengalami perkembangan, sehingga penyimpanan telur tetas sebaiknya sama atau di bawah suhu tersebut.

Berdasarkan hal tersebut harus di atur suhu lingkungannya pada mesin tetas sesuai dengan kebutuhan proses penetasan suhu embrio harus sesuai dengan kondisi pada proses penetasan alami menggunakan induk. suhu yang baik untuk pertumbuhan embrio adalah berkisar di antara 35-37° C.

Hal ini dilakukan supaya embrio dapat berkembang dengan baik maka suhu di dalam ruang penetasan di atur dengan kisaran suhu 95-104° F, untuk menjamin embrio mendapatkan suhu yang ideal agar perkembangannya normal. Kelembapan relatif di dalam penetasan merupakan hal yang penting untuk menjaga kandungan air di dalam telur menguap terlalu banyak melalui pori-pori telur.

kelembapan yang baik di dalam penetasan adalah berkisar antara 60% untuk menetaskan telur puyuh atau 5-10% lebih tinggi untuk menetaskan telur puyuh atau saat akan menetas kelembapan di naikkan menjadi 70% untuk menetaskan telur puyuh.

Pengaturan sirkulasi udara kandungan CO² dalam penetasan jangan lebih dari 0,5%, kandungan CO² sampai 2% akan sangat menurunkan daya tetas dan bila mencapai 5% akan menyebabkan anak puyuh tidak menetas atau presentasi menetas rendah.

Untuk menghindarkan terjadinya hal tersebut (CO² lebih dari 0,5 %) Hendaknya penetasan di usahakan jauh dari jalan raya atau jauh dari jalan yang ramai dengan kendaraan bermotor.