Terbaru

Jumat, 08 Mei 2020

Mahasiswi di Singapura Gunakan Virtual Reality Untuk Menghindari Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual menjadi isu panas di banyak kampus Singapura. Membuat adanya keputusan untuk buka suara menjadi momen #MeToo bagi penduduk Singapura, terutama kaum hawa.

Perempuan di Singapura yang sedang mencoba simulasi VR terhadap pelecehan seksual sumber : jawapos.com

Gerakan #MeToo muncul pada 2017 ketika pelecehan seksual oleh produser film Harvey Weinstein terungkap. Setelah itu, gerakan tersebut mendunia. Namun, di negara-negara Asia, pergerakannya lambat.

Kampus yang berada di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Empat mahasiswinya yaitu Danelia Chim, Seow Yun Rong, Heather Seet, dan Dawn Kwan telah membuat teknologi Virtual Reality (VR) dari proyek Girl, Talk. Tujuannya adalah membantu perempuan melawan pelecehan di negara mereka, Singapura

Dengan cara membuat simulasi perlawanan yang tepat bisa membuat para perempuan keluar dari situasi sulit. Untuk melakukannya, mereka harus berlatih via VR. Simulasi VR menampilkan lima skenario pelecehan yang diambil berdasar pengalaman nyata.

Elizabeth Lee seorang perempuan yang mencoba simulasi tersebut mengungkapkan pendapatnya bawah ia kaget, Seorang lelaki mendekatinya dan berbicara kasar. ’’Wow, rokmu tembus pandang. Apa kamu memakai pakaian dalam senada?’’ ujar pria itu. Perasaan Lee langsung campur aduk antara shock, marah, geram, dan ingin melawan. Namun, perempuan 23 tahun itu tidak bisa memukul pria mesum tersebut. Sebab, dia tidak nyata.


’’Rasanya begitu dekat secara fisik. Sungguh menjijikkan mendengar komentar kasar semacam itu,’’ Ujar Lee

Seluruh video direkam sendiri dengan menggandeng teman-teman lelaki mereka di NTU. Girl, Talk terinspirasi dari penelitian para psikolog di universitas AS. Mereka membuat program VR untuk melawan pelecehan seksual. Program itu dibuat setelah perempuan diketahui bereaksi lebih keras terhadap VR daripada berlatih dengan bermain peran. VR terasa lebih nyata.

Sumber : jawapos.com